10 tren e-commerce di Asia Tenggara tahun 2015

0
229

Kotagrosir.com – Felicia merupakan kepala corporate communications di aCommerce, sebuah perusahaan penyedia layanan e-commerce di Asia Tenggara.

Baca juga: Peluang dan Tantangan E-Commerce Asia Tenggara dan Indonesia

Meskipun banyak langkah besar terjadi di ranah e-commerce Asia Tenggara pada tahun lalu, wilayah ini sebenarnya masih berada di awal perjalanan ritel online. Dengan pendanaan sebesar USD 249 juta (Rp 3,14 triliun) yang didapat SingPost dari Alibaba, USD 100 juta (Rp 1,2 triliun) yang didapat Tokopedia, dan dana USD 250 juta (Rp 3,15 triliun) yang dimiliki Lazada, Asia Tenggara menerima banyak sekali kucuran pendanaan.

Terlepas dari banyaknya dana, beberapa prediksi gagal membuahkan hasil. Mobile commerce, misalnya, tidak meledak seperti yang diharapkan. Bahkan setelah keberhasilan Line flash sale yang menjual habis barang secara online hanya dalam hitungan menit pada Januari 2014. Meskipun muncul sebagai saluran penjualan baru bagi banyak orang Asia Tenggara, banyak orang memang lebih cenderung melakukan browsing melalui gadget tapi hanya sedikit yang melakukan pembelian. Menurut pengamatan aCommerce, pasar Singapura sudah penuh dan negara tersebut tidak memberi keuntungan dibanding pasar lainnya, seperti Indonesia dan Thailand.

Well, jangan terlalu condong pada masa lalu, kini sudah saatnya kita melihat ke depan. Kali ini saya akan menyuguhkan prediksi e-commerce di Asia Tenggara untuk tahun 2015. Artikel ini dibuat berdasar sumber-sumber primer (wawancara dengan investor dan eksekutif, serta data internal) dan sumber-sumber sekunder (berupa artikel dan laporan) dari Januari 2014 hingga Desember 2014.

acommerce-future-ecommerce-720x433

 

 

1. Tahunnya merger dan akuisisi

Jika 2014 merupakan tahun dimana banyak dana yang dikucurkan di Asia Tenggara, maka tahun 2015 akan menjadi tahun dimana startup mulai kehabisan tenaga atau kapasitas untuk memanfaatkan potensi pertumbuhan organik yang besar di wilayah ini. Mengapa? Karena ritel business-to-consumer (B2C), khususnya di negara seperti Indonesia dan Filipina, membutuhkan banyak modal. Hal ini kemungkinan akan mendorong konsolidasi di ranah B2C pada tahun 2015 dan seterusnya. Kedua, dengan terus masuknya modal, perusahaan B2C diharuskan mempercepat pertumbuhan mereka dengan mengakuisisi atau merger dengan pemain lain di ranah ini. Ranah e-commerce B2C masih terfragmentasi tetapi pendatang awal seperti Lazada, dengan banyaknya dana, sudah memimpin di depan dan membuat kompetisi jauh lebih sulit bagi pemain yang lebih kecil.

Aliansi akan terbentuk. Kita telah menyaksikan awal koalisi e-commerce di Thailand dengan perusahaan seperti Whatsnew, Wear You Want dan MOXY yang bekerja sama untuk tetap tetap bisa bersaing. Hanya menunggu hitungan waktu bagi mereka untuk berkonsolidasi. Contoh lainnya: Lazada merambah fashion dengan label LZD. Apa yang membuatnya tidak bergabung dengan Zalora? Bayangkan skala ekonomi dan penghematan yang bisa dilakukan, karena jika bergabung maka hanya membutuhkan usaha marketing untuk satu website dan mengaktifkan hanya satu basis pengguna (keterangan: Lazada Thailand and Wear You Want adalah klien aCommerce. Wear You Want adalah anak perusahaan Ardent Capital).

“Dengan begitu banyak uang yang dikucurkan di pasar, pemain besar ingin melakukan pembelian. – Paul Srivorakul, Group CEO aCommerce dan executive chairman di Ardent Capital.”

 

2. Agensi digital akan beradaptasi atau punah

Agensi pemasaran digital sudah tahu selama bertahun-tahun bahwa e-commerce adalah pasar booming yang masih terus berjuang mengembangkan produk dan layanan e-commerce untuk para klien. Agensi digital tidak memiliki struktur insentif, budaya, dan bakat yang tepat untuk membuat hal ini terjadi, sebagaimana yang diutarakan Sheji Ho dalam Reasons You Should Fire Your Agency. Agensi digital akan mencoba untuk mengatasi ini dengan berubah arah seperti yang dilakukan WPP di China dengan akuisisi perusahaan mitra Taobao – agensi yang mengelola dan mengoperasikan Taobao dan Tmall untuk brand seperti Nike dan L’Oreal. aCommerce menyaksikan ketika Huawei memilih divisi pemasarannya dibanding agensi tradisional lain, atau ketika Uber dan Kiehl’s bermitra dengan agensi pemasaran ini (keterangan: Kiehl’s merupakan klien end-to-end aCommerce).

“Tanpa mengubah DNA (model bisnis) mereka, agensi akan terus mengejar e-commerce unicorn, dan kehilangan bisnis mereka untuk agensi yang berfokus pada e-commerce seperti kami. – Sheji Ho, Group CMO aCommerce.”

 

3. Ranah marketplace akan makin sesak

Terinspirasi oleh IPO Alibaba senilai USD 25 miliar, banyak perusahaan ingin mendirikan marketplace mereka sendiri. Selain pemain lama seperti Lazada dan Rakuten, kita akan melihat perusahaan telekomunikasi, perusahaan media, bank, serta retailer B2C memasuki ranah ini. Menurut CEO Lazada Max Bittner, 70 persen barang Lazada berasal dari penjual pihak ketiga. Perusahaan-perusahaan ini mencari cara tambahan untuk menghasilkan nilai dari basis pengguna mereka di luar value-added services (VAS) biasa. Masuknya tambahan modal, yang paling terkenal adalah investasi dari Softbank ke Tokopedia, akan mengakibatkan persaingan yang sengit di ranah yang sudah sesak ini.

“Seiring dengan semakin memanasnya model marketplace, brand harus mampu menerapkan pendekatan omni-channel dan customer-centric terhadap ritel dengan memastikan bahwa produk mereka tersedia di semua platform tersebut. Berinvestasi dalam aspek teknologi atau mitra untuk mendistribusikan produk secara lancar akan menjadi pembeda utama untuk kesuksesan para brand pada 2015. – Paul Srivorakul”

 

4. E-commerce lintas negara akan semakin pesat berkat AEC

Beberapa tren penting akan membantu mempercepat e-commerce lintas negara pada tahun 2015.

Asean Economic Community (AEC) akan membuka perbatasan dan merangsang perdagangan di seluruh Asia Tenggara melalui kemampuan logistik yang lebih baik.

Perusahaan seperti Amazon dan ASOS sudah melihat negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura, Thailand, dan Indonesia sebagai pasar mereka yang tumbuh tercepat di Asia. Sebagai contoh, ShopBop milik Amazon baru-baru ini melakukan promosi Black Friday/Cyber Monday lintas negara dengan Line dan aCommerce. AEC akan menjadi kekuatan untuk tren ini.

Seiring stabilnya pasar China, perusahaan China seperti Alibaba dan JD kini melirik pasar Asia Tenggara untuk bertumbuh.

“Baru saja melakukan IPO dan mendapat uang yang banyak, memberikan tekanan [bagi perusahaan] untuk tumbuh lebih cepat. Berekspansi ke pasar lain adalah salah satu cara untuk melakukan hal ini dibanding berkutat di pasar China yang kejam. – Paul Srivorakul”

5. Evolusi demografis: entrepreneur asing akan membanjiri pasar Asia Tenggara

Setelah China dan India, Asia Tenggara mungkin adalah pasar paling hot di Asia untuk tempat bekerja bagi pekerja di ranah e-commerce dan teknologi. Kita mulai melihat masuknya orang-orang yang tertarik dengan pasar e-commerce yang booming ini secara organik. Tahun lalu kita melihat lebih banyak entrepreneur asing ingin bekerja di Asia Tenggara, sedangkan di masa lalu kita harus secara aktif merekrut orang asing.

Tren ini akan berlanjut pada tahun 2015 karena Eropa masih terus berjuang dan pemulihan ekonomi di AS masih akan berlangsung dalam beberapa tahun. Kucuran pendanaan, selain mengatasi permasalahan dalam hal kapasitas di pasar lokal, juga meningkatkan banyaknya talenta dan pencapaian, seperti yang telah dilakukan lulusan Rocket Internet dalam beberapa tahun terakhir, baik dalam bisnis mereka sendiri atau sebagai bagian dari bisnis orang lain.

 

6. Uber untuk logistik dan Uber untuk “ini” dan “itu”

Uber seperti sebuah marketplace. Startup ini bisa dibilang sebagai crowdsourcing – menghubungkan pembeli dan penjual. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa Uber merupakan sebuah aplikasi dan 2015 akan menjadi tahun dimana Uber dan GrabTaxi akan lebih serius merambah bisnis logistik.

 

Amazon sudah menguji pengiriman via Uber. Uber juga baru bermitra dengan Kiehl’s dan aCommerce untuk mendistribusikan produk Kiehl’s ke pengemudi Uber di Bangkok. Di Filipina, Uber bergabung dengan LBC Express, perusahaan kargo dan logistik terbesar Filipina, untuk memberikan hadiah Natal on-demand. Persaingan di ranah ini akan memanas. GrabTaxi beberapa waktu lalu mendapatkan pendanaan sebesar USD 250 juta (atau sekitar Rp 3,15 triliun) dari Softbank, sedangkan Uber memiliki dana sebesar USD 2,7 miliar (atau sekitar Rp 34,1 triliun) di pihaknya.

Selain itu, Uber akan menerima USD 600 juta (Rp 7,58 triliun) dari Baidu untuk mendorong ekspansi Asia-nya. Semua dana tersebut pasti akan meningkatkan persaingan dalam bisnis booking taksi dan akan mempercepat inovasi di bidang lain seperti logistik dan pengiriman. Dengan infrastruktur logistik yang belum berkembang di sebagian besar Asia Tenggara, perusahaan seperti Uber dan GrabTaxi akan jauh lebih baik diposisikan untuk memberikan nilai lebih melalui layanan pengiriman di wilayah ini daripada di pasar asal mereka yang lebih maju seperti Amerika Serikat atau Malaysia.

“Mereka sudah memiliki infrastruktur dan teknologi sehingga jika tidak ada cukup permintaan, mereka bisa mengisi waktu mereka dengan melakukan pengiriman, terutama ketika waktu jalanan sepi, seperti selama jam kerja. Sekarang Uber, GrabTaxi, dan Easy Taxi semua berlomba-lomba untuk menarik pelanggan yang sama. Pada titik tertentu mereka perlu mengembangkan pasar. – Peter Kopitz, Group COO aCommerce”

 

7. Mobile commerce masih bermasalah dengan user experience

2014 membuktikan potensi dan memunculkan aplikasi untuk ‘mobile’ sebagai channel belanja di Asia Tenggara, yang sebagian besar dilakukan oleh aplikasi chatting Line. Aplikasi ini memasuki ranah mobile commerce dengan tajuk promosi seperti Line flash sale melalui kerjasama dengan aCommerce. Perusahaan yang berbasis di Jepang ini juga baru saja meluncurkan marketplace mobile consumer-to-consumer (C2C) yang disebut Line Shop. Dengan peluncuran Line Pay dan pembayaran mobile lainnya memasuki pasar, tingkat konversi mobile akan meningkat. Namun kami memperkirakan bahwa mobile commerce masih beberapa tahun lagi untuk bisa menyalip desktop.

 

Pada bulan Februari ketika kami melakukan studi kasus tentang mobile commerce, kami menemukan bahwa penggunaan utama mobile adalah untuk browsing. 89 persen pengguna Line melakukan browsing di mobile tetapi hanya 56 persen dari seluruh transaksi di Thailand yang benar-benar membeli. 10 bulan kemudian saat meninjau data klien kami, proyeksi mobile tetap sangat kecil. Untuk klien besar kami, transaksi mobile masih stabil di angka 10 persen dari total transaksi dalam 30 hari terakhir, meskipun memiliki website yang mobile responsive.

Awal tahun ini, jurnalis Jon Russell menyatakan pendapatnya tentang tren mobile commerce: “Ini […] menantang keyakinan bahwa mobile commerce sudah menyaingi e-commerce. Tren tersebut bisa terjadi di masa depan, karena penetrasi smartphone terus bertumbuh, tetapi tidak untuk sekarang.” Alasan utamanya adalah user experience di mobile belum dioptimalkan untuk aktivitas belanja dan retailer baru di tahun ini tidak akan langsung mengembangkan aplikasi.

 

aCommerce menemukan bahwa banyak brand yang memilih e-commerce melalui desktop dan website mobile responsive daripada mengembangkan sebuah aplikasi yang mahal. Tapi meskipun desktop mungkin masih dominan dibanding mobile, perusahaan diminta untuk mengambil keputusan strategis jangka panjang dan memulai berinvestasi di ranah mobile saat ini, apakah itu membuat website yang mobile responsive atau membuat aplikasi mobile. Ada banyak kesempatan untuk bertumbuh di sini.

Asia Tenggara merupakan pasar yang mobile-first dan agar tetap bisa bersaing kami perlu strategi mobile-only. – investor potensial yang tengah melirik Asia Tenggara, Desember 2014.

 

8. E-commerce B2B akan menjadi tren

Setelah lama dibayangi oleh kepopuleran model e-commerce business-to-consumer (B2C), business-to-business (B2B) akan berjaya pada tahun 2015. Investor dan perusahaan akan mulai serius dan menyadari bahwa B2C, meskipun masih sangat hot, harus menghadapi persaingan yang ketat dan memiliki margin yang sedikit, terutama di pasar negara berkembang dimana sebagian besar produk terlaris merupakan produk konsumen bermargin rendah seperti barang elektronik dan ponsel. B2B tidak akan membantu Anda mendapatkan banyak pelanggan tetapi akan membuat Anda mendapat banyak pendapatan.

Di China misalnya, semua orang berbicara tentang Tmall dan JD serta B2C yang terus bertumbuh tetapi hampir tidak ada orang berbicara tentang B2B. Padahal B2B menyumbang lebih dari 75 persen total nilai barang bruto (GMV) e-commerce di China, dimana dua pertiganya berasal dari UKM B2B. Dan bukan hanya pasar negara berkembang yang berfokus pada B2B. Bos Amazon Jeff Bezos berinvestasi sebesar USD 8 triliun di AmazonSupply, lengan bisnis B2B Amazon yang menargetkan model bisnis yang tidak seksi tapi sangat menguntungkan ini.

“Klien e-commerce B2C kami terus meminta kami untuk [membuka] toko online B2B. Kami melihat ini sebagai kesempatan besar. – Paul Srivorakul”

9. Cash on Delivery (COD) masih merajai Asia Tenggara

COD menyelesaikan dua masalah terbesar pembeli online di Asia Tenggara, yaitu penipuan produk dan pembayaran. Sebagian besar konsumen masih takut memberikan informasi kartu kredit atau kartu debit mereka secara online. Mereka juga khawatir tidak menerima barang yang telah mereka beli. Selain itu, banyak konsumen tidak memiliki kartu kredit, dan uang tunai tetap menjadi pilihan pembayaran mereka. Semua masalah tersebut ditambah dengan sulitnya penanganan pembayaran melalui transfer bank dan ATM, pembayaran di counter, dan Paypal, membuat tingginya tingkat pembatalan. Ini membuat COD menjadi pilihan yang paling diandalkan. Sekitar 70 persen pesanan secara online di sebagian besar negara di Asia Tenggara adalah melalui COD. Tarif pembatalan untuk pembayaran melalui counter, transfer bank dan atm adalah antara 50 sampai 70 persen, sedangkan COD hanya 5 hingga 8 persen.

“Untuk memenangkan e-commerce di Asia Tenggara, perusahaan perlu menerapkan cash on delivery, tidak peduli bagaimanapun sulitnya. Sama seperti same day delivery yang diterapkan Jeff Bezos di Amazon, COD merupakan standar layanan yang diperlukan untuk pasar kita. – Paul Srivorakul”

 

10. Pengiriman menggunakan drone akan terjadi

Tidak.

Baca juga: Peluang dan Tantangan E-Commerce Asia Tenggara dan Indonesia

source by : http://goo.gl/cHtw1i